Mati Sebelum Gempa, Mengapa?

Mati Sebelum Gempa, Mengapa?
Ini adalah pengalaman menakjubkan, sekaligus membingungkan. Malam ke-29 menjadi bagian dari latar sejarah yang baru saya rasakan pertama kali. Merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah saya alami.
Malam itu seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda keganjilan, walau malam itu adalah malam ganjil. Malam yang selalu diburu kaum muslim untuk meraih malam qodar. Meski tak jelas dan tak diketahui kapan sesungguhnya malam qodar itu hadir. Keyakinan saja dan harapan penuh kepadaNya untuk mendapatkan malam qodar penuh sukacita.


Sholat tharawih sudah dilaksanakan seperti malam sebelumnya. Selesai melaksanakan sholat sunnah itu, saya duduk santai sambil menikmati desir angin malam dari balik jendela mushallah. Mushallah berukuran 3x4 m tempat kami melaksanakan kewajiban ibadah, sholat 5 waktu. Hening tiba-tiba menyelimuti suasana rumah kami. Tak terdengar suara celoteh anak-anak yang biasanya ramai sekali. Lantunan ayat suci Al-quran yang baru saja dibaca seakan menghipnotis suasana malam yang tak terlupakan. Tenang, bahkan tak terdengar suara mesin-mesin kendaraan bermotor yang menderu seperti biasanya.


Hati saya jadi bosan. Saya raih handphone yang tak jauh dari jendela itu.
"Dlepp!", tiba-tiba handphone yang saya pegang padam. Padam tanpa meninggalkan cahaya sedikitpun. Hitam legam. Layar sentuh yang biasa dijadikan tempat memanjakan jari, hitam. Tak ada tanda-tanda kan menyala. Mesin HP sepertinya panas. Mati total.
Tak lebih dari 2 menit merasan heran akan kondisi HP saya, tiba-tiba posisi duduk saya menjadi bergetar, bergerak seperting goyangan gempa. Ya, itu gempa walaupun sesaat. Sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik. 


Saya semakin bingung dan heran. Di tengah kondisi HP yang mati total, sesaat  kemudian dikejutkan dengan gempa yang hadir tanpa disangka-sangka. Tak percaya.
Hitungan logika saya, di desa kami, kota kami tak ada gunung. Jangankan gunung aktif, gunung tak aktifpun tak pernah saya jumpai. Kecuali perbukitan yang menghampar di barat kota. Saya pikir, apakah mungkin ada gempa yang terjadi di dasar laut? Laut mana? Kota kecamatan saya hanya diapit antara selat dan teluk. Sangat kecil kemungkinan itu.
Tetapi pantai utara pulau Madura memang terdapat laut luas. Laut yang menjadi penguhung dengan pulau Kalimantan dan Sulawesi. Apa mungkin di dasar lau sana terjadi gempa? Makin ngeri memikirkannya. Bisa terjadi badai tsunami jika begitu. 


Perasaan gundah yang menyelimuti hati ini membuat penasaran yang tak berujung. Saya abaikan begitu saja. HP pun saya letakkan di rak lemari. Tak saya hiraukan lagi. Pasrah. Pikiran menerawang siap untuk berhutang lagi untuk membeli HP. 


Jam menunjukkan pukul 21.12 WIB. Saya bergegas saja menuju mesjid tempat kami beribadah i'tikaf. Berniat menyambut malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Tetapi semangat mulai berkurang. Gempa mesterius yang dirasakan, masih mengganjal di hati. Tak yakin kota Sumenep akan terjadi gempa. Tak mungkin. Kata logika saya.


Saat waktu sahur, saya kembali pulang ke rumah. Sedikit tergesa-gesa menuju lemari itu. Lemari tempat saya menyimpan HP yang mati total penuh misteri. Hati semakin tak karuan saat saya mulai membuka pintu lemari kayu itu.


Kondisi HP makin panas. Saya makin panik dan gusar. Tak terasa tangisan dalam hati mulai terjadi. Menguji kesabaran sejak malam itu. Saya letakkan HP itu di lantai agar dingin. Lima belas menit berlalu. Sudah mulai dingin rupanya.


Terlalu memaksa rasanya hati ini. Dalam hati tetap menuntut dengan doa kepadaNya, agar HP saya satu-satunya tetap dapat menyala, hidup dari kematiannya.
Saya coba kembali. Saya tekan tombol ON nya.
"Byarr..!", cahaya HP mulai menyala.
"Masyaallah...subhanallah...!", secara tak sadar saya berteriak. HP saya menyala kembali. Berfungsi kembali...
Sujud syukur menjadi tanda terima kasih kepadaNya. Mengapa saya terasa lemah, sampai hati berdoa kepadaNya bahwa memohon agar HP saya 'segera disembuhkan'. Dan Allah mengabulkannya. Nyatalah bahwa secanggih apapun mesin HP buatan manusia, wajib lebih canggih dan dahsyat kuasa Allah. Karena Allahlah yang menciptakan orang perakit mesin itu. Bahkan Allahlah yang memberi ilham pada orang pilihan untuk menciptakan HP. Allahlah yang menciptakan semuanya. Tidak ada yang lain.


Setelah HP saya buka, WA menjadi menu pilihan pertama. Deretan pesan di WA terus bergiliran masuk dengan cepat sekali. Saya buka one by one.
Sungguh di luar dugaan. Gempa itu benar-benar telah terjadi. Tautan berita dari media on line menyesaki berbagai grup WA yang saya ikuti.


Subhanallah....daerah pesisir pantai itu mengalami gempa. Dilaporkan puluhan rumah mengalami kerusakan. Sungguh aneh. Tak habis pikir. Mengapa gempa itu terjadi di kota kami? Ada apakah?
Tentu itu takdir Allah, Tuhan semesta alam. Tapi logika saya belum menerima secara teoretis. Sampai sekarang. Sungguh tak dapat saya lupakan, mengapa HP saya tak berfungsi dan mati total sesaat sebelum gempa terjadi. Apa hubungannya?


Ya sudahlah, saya tulis saya ganjalan barang ganjil ini. Silakan definisikan sendiri.
Allah Maha Kuasa. Titik.

alee duangh
alee duangh Saya adalah pribadi yang ingin selalu belajar dan berbagi. Menebar manfaat dan kebaikan adalah tabungan yang akan abadi

Post a Comment for "Mati Sebelum Gempa, Mengapa?"