Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan

 Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan (Sumber: Pedoman Kokurikuler)


Pena Pendidikan-Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan. Perhatikan contoh  Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan di bawah ini.

Kegiatan kokurikuler kini menjadi motor penggerak transformasi pembelajaran di sekolah. Melalui tema kokurikuler yang dirancang secara kontekstual, satuan pendidikan didorong membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan murid, lingkungan sosial budaya, serta arah penguatan profil lulusan. Panduan kokurikuler terbaru menegaskan bahwa penyusunan tema tidak wajib terpaku pada contoh yang tersedia, namun justru mendorong kreativitas sekolah menghadirkan kegiatan yang relevan dan bermakna.


Tema Kegiatan Kokurikuler: Fondasi Penguatan Karakter dan Kompetensi Murid

Dalam panduan kokurikuler, tema berfungsi sebagai penghubung antara aktivitas pembelajaran dengan realitas kehidupan murid. Satuan pendidikan diberikan keleluasaan memilih atau menciptakan tema kokurikuler baru yang merefleksikan kebutuhan lokal. Contohnya, SMP Cinta Ilmu dengan dominasi orang tua murid yang bekerja di sektor UMKM dan pariwisata merancang tema untuk mengembangkan kreativitas dan kolaborasi. Sementara di SMK Top, dominasi perusahaan mitra dari luar negeri mendorong sekolah memperkuat nasionalisme melalui dimensi kewargaan.

Beberapa tema inspiratif yang dapat digunakan dalam kegiatan kokurikuler antara lain: generasi sehat dan bugar, hidup hemat dan produktif, gaya hidup berkelanjutan, hingga aku cinta Indonesia. Namun satuan pendidikan dianjurkan menciptakan tema sendiri yang lebih kaya, adaptif, dan sejalan dengan profil lulusan.


Tiga Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Memperkuat Profil Lulusan

Dalam panduan, kegiatan kokurikuler diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama:

  1. Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu
  2. Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH)
  3. Kegiatan kokurikuler berbasis cara lainnya (konteks lokal dan nilai satuan pendidikan)

Ketiganya dirancang untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan, mulai dari kreativitas, kolaborasi, kebinekaan, hingga kemandirian.


1. Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin: Menghubungkan Ilmu dengan Kehidupan Nyata

Bentuk pertama adalah kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran dalam sebuah tema kokurikuler. Tujuannya memperkaya pemahaman murid secara holistik dan membantu mereka melihat keterkaitan antar disiplin ilmu.

Contoh implementasinya adalah tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat”, yang menyatukan IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, serta Seni Budaya.

Murid mengamati kondisi lingkungan dalam IPAS.

Data pengamatan mereka olah dalam Matematika menggunakan tabel dan grafik.

Hasil kajian dituangkan dalam laporan naratif Bahasa Indonesia.

Seni Budaya memperkuat pesan kampanye lewat poster, brosur, dan desain visual.

Model seperti ini menjadikan kegiatan kokurikuler sebagai wahana belajar kolaboratif, kreatif, dan berlandaskan pengalaman nyata. Prosesnya meliputi: analisis profil lulusan yang ditingkatkan, pemilihan tema, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi.


2. Gerakan 7KAIH: Kokurikuler untuk Membentuk Kebiasaan Positif dan Karakter Unggul

Bentuk kedua dalam panduan kokurikuler adalah Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), yakni:

Bangun pagi

Beribadah

Berolahraga

Makan sehat

Gemar belajar

Bermasyarakat

Tidur cepat

Gerakan ini bukan sekadar imbauan moral, tetapi kegiatan kokurikuler yang disusun sistematis—lengkap dengan tujuan, pembiasaan harian, pendampingan, hingga asesmen. Pada satuan PAUD, 7KAIH dapat diintegrasikan dengan kegiatan intrakurikuler selama relevan dengan tema pembelajaran.

Implementasinya melibatkan:

jurnal kebiasaan harian,

tantangan mingguan,

kampanye kebiasaan baik,

wawancara tokoh masyarakat,

riset kecil,

aksi kolaboratif antar kelas.

Evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak kebiasaan, meninjau proses, serta menentukan tindak lanjut agar profil lulusan semakin kuat dan berkarakter.


3. Kegiatan Kokurikuler Berbasis Cara Lainnya: Mengangkat Nilai Lokal dan Identitas Sekolah

Bentuk ketiga adalah kegiatan kokurikuler yang digali dari kearifan lokal, budaya sekolah, dan nilai-nilai lembaga. Model ini memungkinkan sekolah menghadirkan pengalaman belajar berbasis konteks lingkungan dan karakter masyarakat.

Contohnya:

kelas membatik sebagai pelestarian budaya,

praktik bertani atau berkebun selaras dengan potensi daerah,

permainan tradisional sebagai sarana motorik dan kerja sama,

pagelaran seni yang melibatkan banyak unsur keilmuan

kegiatan berbasis nilai keislaman, kristiani, atau keagamaan lainnya sesuai karakter pendidikan.

Selama kegiatan dirancang sistematis, melibatkan asesmen, bernilai pendidikan, serta berorientasi pada delapan dimensi profil lulusan, kegiatan tersebut sah sebagai kokurikuler.


Kegiatan Kokurikuler Menjadi Pilar Utama Transformasi Pembelajaran

Melalui pengembangan tema kokurikuler yang kontekstual, pembelajaran lintas disiplin yang kolaboratif, gerakan pembiasaan positif 7KAIH, dan kegiatan berbasis kearifan lokal, sekolah dapat menghadirkan pengalaman belajar yang berakar pada budaya, kebutuhan murid, serta arah perkembangan zaman.

Panduan kokurikuler buka hanya dokumen administratif, tetapi kerangka strategis untuk membentuk generasi yang kreatif, mandiri, berkarakter kuat, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan memanfaatkan fleksibilitas ini, satuan pendidikan dapat memperkuat kualitas pembelajaran dan mencetak profil lulusan yang relevan untuk masa depan Indonesia.

Selengkapnya,  Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan Unduh DI SINI.

Post a Comment for " Tema dan Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Kontekstual dan Berbasis Profil Lulusan"