Gerakan Rukun Sama Teman: Strategi Kemendikdasmen Membangun Sekolah Aman, Bebas Perundungan, dan Menyemai Generasi Indonesia Emas 2045

 

Gerakan Rukun Sama Teman: Strategi Kemendikdasmen Membangun Sekolah Aman, Bebas Perundungan, dan Menyemai Generasi Indonesia Emas 2045

Upaya membangun sekolah yang aman, nyaman, dan berkarakter tidak cukup dilakukan melalui regulasi semata. Dibutuhkan gerakan kultural yang menyentuh kesadaran murid sebagai subjek utama pendidikan. Inilah semangat yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Gerakan Rukun Sama Teman, sebuah inisiatif nasional untuk menumbuhkan budaya sekolah yang ramah anak, bebas perundungan, dan berlandaskan nilai kebersamaan. Gerakan ini kembali ditegaskan saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mendeklarasikannya bersama ratusan murid SMPN 1 Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan pesan kuat bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari relasi antarmurid. Di tengah tantangan dunia pendidikan modern—mulai dari perundungan, kekerasan verbal, hingga degradasi empati—Kemendikdasmen menempatkan murid sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan. Sekolah diarahkan menjadi ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan membangun jati diri.

Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tujuan besar pendidikan nasional adalah membentuk generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter. Ia mengajak para murid untuk menjadi generasi serba tahu, serba bisa, sekaligus rendah hati dan berakhlak mulia. Menurutnya, kemajuan Indonesia, termasuk daerah seperti Garut, sangat ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya. Pendidikan, tegas Mu’ti, adalah fondasi utama pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Menteri Mu’ti menekankan pentingnya pembiasaan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu instrumen strategisnya adalah 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang diterapkan secara konsisten di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial. Melalui kebiasaan ini, anak-anak diharapkan memiliki mental yang sehat, fisik yang kuat, serta menjadikan ilmu sebagai bekal utama menjalani kehidupan. “Dengan ilmu semua menjadi mudah, dengan seni semua menjadi indah, dan dengan akhlak semua menjadi mulia,” tutur Mu’ti, merangkum esensi pendidikan yang holistik.

Dukungan terhadap Gerakan Rukun Sama Teman juga datang dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Garut Putri Karlina menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kemendikdasmen yang membawa program strategis ini langsung ke satuan pendidikan. Ia menilai gerakan tersebut sangat relevan untuk menciptakan proses pembelajaran yang aman dan nyaman, khususnya dalam mencegah praktik perundungan di sekolah. Putri menegaskan bahwa murid hari ini adalah calon Generasi Indonesia Emas 2045, sehingga mereka perlu dibekali kebiasaan baik sejak dini.

Menurut Putri Karlina, makna rukun dengan teman bukan berarti meniadakan canda atau perbedaan, melainkan membangun relasi yang saling menghargai tanpa menyakiti. Sekolah, dalam pandangannya, harus menjadi tempat yang menumbuhkan rasa aman, bukan ruang yang memproduksi ketakutan. Pesan ini sejalan dengan semangat Gerakan Rukun Sama Teman yang mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang sehat secara emosional dan sosial.

Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami menekankan bahwa sekolah ideal adalah rumah kedua bagi murid. Ia mengajak seluruh warga SMPN 1 Tarogong Kaler untuk membangun budaya rukun, saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai kolaborasi. Menurut Rusprita, keberhasilan membangun sekolah yang aman dan nyaman hanya dapat dicapai jika seluruh unsur—kepala sekolah, guru, murid, hingga tenaga kependidikan—bergerak bersama dalam satu nilai.

Rusprita juga mengaitkan Gerakan Rukun Sama Teman dengan empat pesan utama Presiden Prabowo Subianto, yakni belajar dengan sungguh-sungguh, mencintai orang tua, menghormati guru, dan hidup rukun bersama teman. Nilai-nilai ini, menurutnya, adalah fondasi untuk menumbuhkan generasi Indonesia Hebat yang mampu tumbuh, bermain, dan berkembang secara seimbang di lingkungan sekolah.

Dari sudut pandang murid, gerakan ini mendapat sambutan positif. Rifki Aidil Adha, Wakil Ketua OSIS SMPN 1 Tarogong Kaler, menilai sosialisasi Gerakan Rukun Sama Teman sebagai pengalaman yang inspiratif dan memotivasi. Ia merasakan langsung bahwa penerapan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat memberi dampak positif dalam proses belajar sekaligus memperkuat hubungan antarteman. Bagi Aidil, sekolah yang rukun adalah kunci kenyamanan belajar.

Hal senada diungkapkan Regina Calsabila, yang merasa bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia menilai pesan-pesan yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Menurut Regina, Gerakan Rukun Sama Teman memberi pengingat bahwa menciptakan sekolah yang aman dan nyaman adalah tanggung jawab bersama seluruh murid.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Menteri Abdul Mu’ti bersama Wakil Bupati Garut menandatangani prasasti peresmian 31 SMP hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Program ini diharapkan mampu menghadirkan sarana pendidikan yang lebih layak, aman, dan mendukung implementasi Gerakan Rukun Sama Teman secara berkelanjutan. Acara ditutup dengan menyanyikan lagu Hari Baru, menandai semangat baru menyongsong semester genap tahun ajaran 2025/2026.

Gerakan Rukun Sama Teman menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga tentang membangun relasi manusiawi di ruang kelas. Ketika murid diajak untuk rukun, saling menjaga, dan tumbuh bersama, sekolah tidak lagi sekadar tempat belajar, melainkan ruang aman untuk membentuk karakter dan masa depan bangsa.


Sumber: https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14501-bersama-mendikdasmen-ratusan-murid-garut-deklarasikan-geraka

Post a Comment for "Gerakan Rukun Sama Teman: Strategi Kemendikdasmen Membangun Sekolah Aman, Bebas Perundungan, dan Menyemai Generasi Indonesia Emas 2045"