Pena Pendidikan-Pada bagian ini, akan dikupas tentang Guru Dan Dunia Baru Literasi Digital: Buat Jejak Digital, Menjadi Penggerak Perubahan di Era Pendidikan Modern. Pembaca akan diajak untuk memehami beberapa poin penting, yaitu guru dan literasi digital, guru di era digital, literasi digital guru, transformasi pendidikan, guru digital, keterampilan digital guru, pembelajaran digital, jejak digital positif, teknologi pendidikan, guru profesional, dunia baru literasi digital.
Nantikan tulisan ini akan menjadi buku inspiratif: Guru Blogger: Keajaiban Menulis Setiap Hari
Pendahuluan: Ketika Dunia Belajar Berubah
Dunia pendidikan tidak pernah benar-benar berhenti berubah. Dahulu, guru berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis sebagai perangkat utama untuk menjelaskan pelajaran. Buku paket, catatan siswa, dan perpustakaan menjadi sumber pengetahuan yang sangat penting.
Seiring berjalannya waktu, kini, guru di era digital
berhadapan dengan ruang belajar yang jauh lebih luas. Pengetahuan dapat
ditemukan melalui internet, video pembelajaran, platform pendidikan, perpustakaan
digital, media sosial, aplikasi interaktif, hingga teknologi kecerdasan
artifisial.
Perubahan tersebut tidak berarti peran guru menjadi semakin kecil. Justru
sebaliknya, literasi digital guru menjadi semakin penting. Guru tidak cukup
hanya mampu mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga harus mampu memilih
informasi yang benar, menggunakan teknologi secara bijaksana, menjaga etika
digital, serta membimbing peserta didik agar menjadi pengguna teknologi yang
bertanggung jawab.
UNESCO melalui Global Education Monitoring Report 2023: Technology in
Education menegaskan bahwa teknologi seharusnya digunakan berdasarkan kebutuhan
peserta didik dan mendukung interaksi manusia dalam pendidikan, bukan
menggantikan hubungan antara guru dan peserta didik.
1.1 Guru di Tengah Perubahan Zaman
Guru masa kini hidup dalam situasi yang berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya. Peserta didik datang ke sekolah dengan pengalaman digital yang
beragam. Mereka terbiasa mencari informasi melalui mesin pencari, menonton
video, berkomunikasi melalui aplikasi, dan memperoleh pengetahuan dari berbagai
sumber.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Guru di era
digital harus mampu menempatkan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Teknologi bukan tujuan akhir. Papan tulis, buku, komputer, tablet, telepon
pintar, proyektor, dan platform pembelajaran hanyalah sarana. Yang paling
penting tetaplah bagaimana guru merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Kemendikdasmen juga menekankan pentingnya transformasi guru seiring dengan
digitalisasi pembelajaran. Dalam pernyataan Direktorat Guru Pendidikan Menengah
dan Pendidikan Khusus pada Mei 2026, transformasi guru disebut penting agar
digitalisasi pembelajaran dapat diterima dan dimanfaatkan secara optimal oleh
peserta didik. Pada saat yang sama, etika digital perlu tetap dijaga agar
perkembangan teknologi tidak menggeser karakter peserta didik.
Dengan demikian, guru profesional bukanlah guru yang sekadar mengikuti
setiap teknologi baru. Guru profesional adalah pendidik yang mampu menentukan teknologi
apa yang tepat, kapan digunakan, untuk siapa digunakan, dan bagaimana
penggunaannya memberikan manfaat nyata bagi pembelajaran.
1.1.1 Perubahan Cara Belajar dan
Berbagi Pengetahuan
Salah satu perubahan terbesar dalam literasi digital pendidikan adalah cara
manusia memperoleh dan membagikan pengetahuan. Dahulu, seorang siswa mungkin
harus mencari informasi melalui buku cetak atau bertanya langsung kepada guru.
Sekarang, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti seseorang
memperoleh pengetahuan yang benar. Internet juga dipenuhi informasi yang
keliru, manipulatif, tidak lengkap, bahkan sengaja dibuat untuk menyesatkan.
Karena itu, kemampuan mencari informasi harus diikuti kemampuan menilai,
membandingkan, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung
jawab.
Di sinilah guru memiliki peran penting sebagai pembimbing literasi digital.
Guru dapat mengajarkan peserta didik untuk memeriksa sumber informasi,
membandingkan beberapa referensi, mengenali penulis atau lembaga penerbit,
memperhatikan tanggal publikasi, serta membedakan fakta, opini, iklan, dan
informasi palsu.
UNESCO mencatat bahwa teknologi dalam pendidikan dapat berfungsi sebagai
sarana penyampaian pembelajaran, keterampilan yang perlu dikuasai, alat
perencanaan, sekaligus bagian dari lingkungan sosial dan budaya. Karena itu,
kemampuan digital tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan modern.
Perubahan juga terjadi dalam cara guru berbagi pengetahuan. Sebuah materi
pembelajaran tidak lagi harus berhenti di dalam kelas. Guru dapat menulis
artikel pendidikan, membuat video pembelajaran, menyusun infografis, membangun
blog, membuat bahan ajar digital, atau berbagi praktik baik melalui komunitas
profesional.
Dengan demikian, guru dan literasi digital memiliki hubungan yang sangat
erat. Guru tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga dapat menjadi
produsen pengetahuan yang bermanfaat.
1.1.2 Dari Papan Tulis Menuju Ruang
Digital
Perjalanan dari papan tulis menuju ruang digital bukan berarti papan tulis
harus ditinggalkan. Papan tulis tetap memiliki fungsi penting. Perubahan yang
terjadi adalah bertambahnya pilihan media pembelajaran.
Seorang guru dapat menjelaskan konsep matematika melalui papan tulis,
kemudian memperkuatnya dengan simulasi digital. Guru bahasa dapat membahas teks
di buku, lalu mengajak siswa membuat tulisan digital. Guru IPAS dapat
menggunakan gambar, video, peta interaktif, atau sumber data digital untuk
memperkaya pembelajaran.
Di Indonesia, transformasi tersebut semakin terlihat. Direktorat Guru
Pendidikan Dasar Kemendikdasmen melaporkan pada November 2025 bahwa lebih dari
173 ribu sekolah telah menerima dan memanfaatkan Interactive Flat Panel melalui
Program Digitalisasi Pembelajaran. Program tersebut menyasar ratusan ribu
sekolah di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran
berbasis teknologi.
Akan tetapi, keberadaan perangkat digital tidak otomatis menghasilkan
pembelajaran berkualitas. UNESCO mengingatkan bahwa bukti mengenai dampak
teknologi pendidikan masih beragam dan akses terhadap teknologi juga belum
merata. Karena itu, penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan kesesuaian,
pemerataan, bukti manfaat, dan keberlanjutan.
Guru perlu memiliki prinsip sederhana: teknologi digunakan karena memang
membantu peserta didik belajar, bukan digunakan sekadar karena sedang populer.
1.1.3 Mengapa Guru Perlu Memiliki
Jejak Digital Positif?
Setiap aktivitas di ruang digital berpotensi meninggalkan jejak digital.
Tulisan, komentar, foto, video, unggahan media sosial, artikel blog, dan
berbagai bentuk interaksi daring dapat membentuk gambaran tentang seseorang.
Bagi guru, jejak digital memiliki nilai profesional. Ketika seseorang
mencari nama seorang guru di internet, berbagai informasi yang muncul dapat
menjadi bagian dari citra digital guru tersebut. Karena itu, guru perlu membangun
jejak digital positif yang mencerminkan profesionalitas, integritas,
kreativitas, dan kepedulian terhadap pendidikan.
Jejak digital positif dapat dibangun melalui berbagai cara. Guru dapat
menulis artikel pendidikan, membagikan praktik baik pembelajaran, membuat bahan
ajar, mempublikasikan karya literasi, mengikuti komunitas profesional, atau
berbagi pengalaman yang dapat memberikan inspirasi bagi guru lainnya.
Sebaliknya, guru perlu berhati-hati terhadap unggahan yang mengandung
penghinaan, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, pelanggaran privasi
peserta didik, konten diskriminatif, maupun materi yang dapat merusak reputasi
profesional.
UNESCO dalam laporan teknologi pendidikan juga menekankan pentingnya
perlindungan hak, kesejahteraan, keamanan daring, privasi, dan perlindungan
data dalam pemanfaatan teknologi pendidikan.
Guru Bukan Sekadar Pengguna Teknologi
Guru perlu terus belajar, membaca, mencoba, mengevaluasi, dan berbagi.
Keterampilan digital tidak berhenti ketika seseorang mampu membuka aplikasi
atau membuat presentasi. Literasi digital mencakup kemampuan berpikir kritis,
berkomunikasi, menciptakan konten, menjaga keamanan, memahami etika, dan mengambil
keputusan secara bertanggung jawab.
Guru yang memiliki literasi digital kuat dapat menjadi contoh nyata bagi
peserta didiknya. Ia menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar tempat mencari
hiburan, melainkan juga ruang untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan
memberikan manfaat.
Guru Hari Ini, Jejaknya
Dibaca Esok Hari
Perubahan zaman tidak dapat dihentikan, tetapi guru dapat memilih bagaimana
menyikapinya. Transformasi pendidikan digital membutuhkan guru yang mau
bertumbuh. Papan tulis tetap dapat digunakan, tetapi ruang belajar guru kini
telah meluas hingga dunia digital.
Karena itu, setiap guru perlu membangun tiga kekuatan sekaligus: kemampuan
pedagogis, keterampilan digital, dan karakter yang kuat. Ketiganya menjadi
fondasi agar teknologi benar-benar menjadi alat untuk memanusiakan pendidikan.
Tulisan guru dapat menjadi jejak. Video pembelajaran dapat menjadi warisan.
Praktik baik dapat menginspirasi sekolah lain. Gagasan sederhana dapat
berkembang menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Maka, menjadi guru di zaman baru berarti bersedia terus belajar dan berani
meninggalkan jejak digital positif. Sebab ruang kelas mungkin hanya ditempati
beberapa puluh peserta didik, tetapi karya guru di ruang digital berpeluang
menjangkau jauh lebih banyak orang.
Guru yang belajar akan berkembang. Guru yang berbagi akan menginspirasi.
Guru yang membangun jejak digital positif akan meninggalkan warisan pengetahuan
yang melampaui ruang dan waktu.
guru dan literasi digital, guru di era digital, literasi digital guru,
transformasi pendidikan digital, guru profesional era digital, pembelajaran
digital, teknologi pendidikan, keterampilan digital guru, jejak digital
positif, guru dan teknologi, dunia baru literasi digital.
Sumber:
1. UNESCO — Global Education Monitoring Report 2023: Technology in
Education: A Tool on Whose Terms? Laporan utama mengenai teknologi dalam
pendidikan, kesiapan guru, akses teknologi, kompetensi digital, serta
penggunaan teknologi yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
2. UNESCO IITE — Global Education Monitoring Report 2023: Technology in
Education. Membahas lima fungsi teknologi dalam pendidikan serta pentingnya
akses, regulasi, dan kesiapan guru.
3. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah — Literasi Digital bagi Tenaga
Pendidik dan Anak Didik di Era Digital. Membahas pentingnya literasi digital
dalam menghadapi perubahan teknologi dan transformasi masyarakat.
4. Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen
— Guru Harus Bertransformasi di Era Digitalisasi, 2 Mei 2026. Menekankan
transformasi guru, digitalisasi pembelajaran, serta pentingnya etika digital
dan karakter peserta didik.
5. Direktorat Guru Pendidikan Dasar, Kemendikdasmen — Guru dan Siswa Rasakan
Langsung Dampak Digitalisasi Pembelajaran, 18 November 2025. Memuat informasi
mengenai implementasi Program Digitalisasi Pembelajaran dan pemanfaatan panel
interaktif digital di sekolah.


Iklannya banyak banget hehehe
ReplyDelete